Cukup lama juga aku tak kencan berdua saja dengan mamak. Sejak mengabdi di kantor yang baru sebagian waktu weekendku dihabiskan di kantor. Sore kemarin… aku pulang cepat, baru gajian, hati riang, kondisi badan juga prima. Kupikir ini moment yang paling tepat untuk mengajak mamak ke tempat favorit kami. Mamak kutelepon untuk bersiap-siap. Kami akan shalat magrib berjamaah di Mesjid Raya…
Kurasa aku baik-baik saja, mulai wudhu hingga takbiratul ihram. Tapi tiba-tiba saja, dirakaat pertama, waktu Imam menutup Al-fatihah, pandanganku tiba-tiba buram, napasku tiba-tiba sesak, keringatku mengucur deras dari ubun-ubun hingga ujung kaki. Aku pernah drop tapi napasku tak pernah sesak begini. Kakiku gemetaran. Aku semakin tak kuat menahan beban tubuhku. Tapi aku coba terus bertahan hingga tahyatul akhir. Aku tak ingat bacaan Imam, yang ku tahu hanyalah mengikuti gerakan-gerakan shalat saja. Alhamdulillah aku diberi rahmadNya hingga rakaat ketiga berhasil kusempurnakan.
Tepat setelah salam, aku langsung terduduk lunglai dibahu mamak. Mamak bingung dan agak panik tapi mencoba tenang. Mamak bilang wajahku pucat, keringatan, buku-buku jariku pucat dan membiru. Mamak bingung kemana harus mencari air gula sementara aku hampir pingsan begini (biasanya pertolongan pertama untuk case sepertiku yang paling manjur itu ya dikasih minuman yang manis).
Tiba-tiba saja, ada seorang ibu yang duduk di shaf sebelah kanan mamak menawarkan air sirup manis dalam botol aqua untukku biar aku merasa lebih baik katanya. Alhamdulillah, setelah kuminum berteguk-teguk, aku jadi sedikit lega meski masih agak lemas, aku hanya bisa bersandar ditembok tiang di dalam mesjid.
Disela-sela aku yang berusaha mengumpulkan energi, mamak yang baru selesai shalat sunnat menyampaikan bahwa betapa aku harus bersyukur dan semua karena Kuasa Allah Subhanahu waa ta’alaa karena Ibu yang tadi kasih air sirup itu ternyata kawan alm Bapak, dia baru saja bilang biasanya selalu shalat di shaf paling depan dan sangat jarang bawa air minum. Tapi tiba-tiba saja tadi entah kenapa sebelum pergi terketuk hatinya untuk menyiapkan air itu pake sirup pula, katanya buat jaga-jaga kalau dia haus nanti.
Mendengarnya aku hanya bisa diam..
Ya Allah, rencanaMu sungguh sempurna. Tak ada yang lebih sempurna dari setitik kesederhanaan yang kau berikan tapi berjuta cinta dan rasa syukur yang hamba rasakan. Maha Suci Engkau ya Rabb.
Mulai dari Imam mesjid yang hanya membaca ayat-ayat pendek-tak seperti biasanya-karena Engkau tahu betapa hamba berjuang menahan rasa sesak dan tubuh hamba yang makin lemas sejak rakaat pertama; Teman alm bapak yang pindah ke shaf belakang karena hanya ingin menyapa mamak-juga tak seperti biasanya-karena Engkau tahu hamba pasti membutuhkan air itu. Ya Allah, Engkau Maha Pemilik Rahasia dan Maha Penyayang. Hamba yang hina ini semakin merasa malu dan kerdil akan limpahan Kasih Sayang dan KuasaMu ya Allah.
Akhirnya aku pulang malah dibonceng mamak, mampir ke warung terdekat makan telur setengah matang. Kupaksa meski tak suka hehe. Ending kencan kami kali ini tak seromantis biasanya hihi. Insyaallah kuganti dengan hari lain. Tapi sekali lagi perjalanan aku dan mamak meninggalkan cerita yang begitu dalam untukku.
Terima kasih untukMu ya Allah atas limpahan kasih sayangMu untuk hamba.
Terima kasih untukmu Ibu atas limpahan kasih sayangmu dan terus mengingatkanku atas Kuasa dan Kasih Sayang Allah yang begitu melimpah.
Subhanallah wal Hamdulillah wa Laa ilaaha illallah Allahu Akbar.
With love,
Aku, mamak, dan sejuta hikmah sore kemarin
